Mindset Desainer Tapi YouTuber: Cara Mengubah Skill Kreatif Menjadi Aset Konten yang Menghasilkan
Banyak desainer bermimpi punya channel YouTube.
Tapi hanya sedikit yang benar-benar memulainya—dan lebih sedikit lagi yang bertahan.
Masalahnya bukan soal kamera.
Bukan juga soal editing.
Masalahnya hampir selalu sama: cara pandang.
Sebagian melihat YouTube sebagai panggung hiburan.
Sebagian lain melihatnya sebagai ladang viral.
Padahal bagi desainer, ilustrator, freelancer, dan microstock contributor,
YouTube bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih penting:
aset digital jangka panjang.
Inilah mindset yang dibahas dalam ebook Mindset Desainer Tapi YouTuber.
YouTube Bukan Soal Bakat Bicara, Tapi Cara Mengemas Skill
Banyak orang menunda membuat konten karena merasa:
tidak jago ngomong,
tidak pede tampil di kamera,
tidak merasa “seperti YouTuber”.
Padahal, desainer tidak perlu menjadi entertainer.
Desainer sudah punya modal besar:
proses kerja,
problem solving,
workflow,
dan pengalaman teknis.
Semua itu bisa dikemas menjadi konten:
screen recording,
tutorial singkat,
studi kasus,
review tools,
hingga breakdown proyek nyata.
YouTube bukan soal siapa yang paling lucu.
Tapi siapa yang paling relevan dan konsisten.
Skill Desain, Ilustrasi, dan Freelance = Bahan Konten Tak Pernah Habis
Salah satu kesalahan terbesar kreator pemula adalah menganggap konten harus “unik”.
Padahal, bagi desainer:
satu desain bisa jadi banyak konten,
satu proyek bisa jadi satu seri,
satu skill bisa jadi puluhan video.
Contohnya:
proses desain → konten
revisi klien → konten
gagal upload microstock → konten
tools yang dipakai → konten
cara berpikir saat ambil job → konten
Inilah yang membuat channel berbasis skill lebih tahan lama dibanding channel berbasis tren.
Dan mindset ini dibedah pelan-pelan di ebook Mindset Desainer Tapi YouTuber.
Microstock & Freelance: Ngonten Sambil Bangun Aset
Bagi microstock contributor dan freelancer, YouTube bukan distraksi.
Justru sebaliknya—YouTube bisa menjadi penguat ekosistem.
Dengan konten yang tepat, Anda bisa:
berbagi pengalaman microstock,
edukasi workflow,
dokumentasi proses,
sambil membangun personal branding.
Konten ini tidak harus viral.
Yang penting dicari dan ditonton ulang.
Video seperti ini:
relevan bertahun-tahun,
stabil view-nya,
dan sering kali punya RPM lebih baik.
Ebook ini tidak mengajarkan “cara cepat kaya”.
Tapi menunjukkan bagaimana konten dan aset bisa berjalan bersamaan.
Tidak Butuh Studio, Cukup Rekam Layar
Banyak orang berhenti sebelum mulai karena membayangkan YouTube itu ribet.
Padahal:
laptop,
skill,
dan software rekam layar gratis
sudah cukup untuk memulai.
Di ebook ini dibahas bagaimana:
screen recording bisa jadi “studio”,
tools sederhana seperti ActivePresenter bisa dipakai,
dan kenapa konten berbasis layar justru lebih fokus ke value.
Bagi desainer, layar kerja adalah panggung terbaik.
Monetisasi: Dari View ke Value
View bukan tujuan akhir.
Value-lah yang membuat channel bertahan.
Di dalam ebook, dibahas berbagai jalur monetisasi:
Google Adsense,
affiliate produk fisik & digital,
hingga menjual produk atau jasa sendiri.
Bukan dengan janji instan,
tapi dengan pemahaman:
kapan fokus ke Shorts,
kapan membangun video Long,
dan bagaimana membangun sistem konten berkelanjutan.
YouTube bukan mesin uang cepat.
Tapi bisa menjadi mesin kepercayaan.
Tentang Ebook “Mindset Desainer Tapi YouTuber”
Ebook ini bukan panduan teknis langkah demi langkah.
Bukan juga janji viral.
Ini adalah:
catatan,
cara pandang,
dan pengalaman
tentang bagaimana skill kreatif bisa dikemas menjadi konten yang bernilai.
Cocok untuk:
desainer grafis,
ilustrator,
freelancer,
microstock contributor,
dan kreator berbasis skill.
📘 Format: Ebook Digital
💰 Harga Normal: Rp149.000
🔥 Harga Promo (Terbatas): Rp79.900
👉 Akses ebook di sini: LINK.ID/ERWINWIRA
Baca pelan-pelan.
Ambil yang relevan.
Sisanya boleh dilewati.




Comments
Post a Comment